Translate

Jumat, 30 November 2012

My Tesis MMT ITS


    (CASE STUDY CITILINK - GARUDA INDONESIA)

By:
Beny Purnama 
9109201401
Date of Examination: July 21, 2012  



Abstract

Citilink is a Strategic Business Unit of PT Garuda Indonesia Citilink wherein the first operation on July 16, 2001 where, in the progress up to January 2008, Garuda Indonesia Citilink decided not to operate for a while to reorganize Citilink policy and strategy. With the concept of Low Cost Carrier (LCC) operates Citilink back in September 2008 with a base of operations in Surabaya, with limited personal key assignments as many as 11 employees from various functions Garuda Indonesia responsibilities in the area of  Engineering, Operations, Finance, HR and Marketing. In contrast to Garuda Indonesia, the organization at Citilink does not have the Department of Strategy. Citilink marketing outreach - Garuda Indonesia from 2009 - 2011 shows the increase in load factor is the fulfillment of the available seat capacity, but the beginning of 2012 month of January to April has been a decline in which this would complicate the achievement of the desired load factor. Based on these trends indicate whether the marketing strategy implemented if it is appropriate or needs to be reviewed has been given in addition to the indication for the achievement of revenue targets also do not meet the target of a maximum income of the company. Currently SBU Citilink in the marketing department does not have a standard "framework" of marketing strategy formulation, the researchers used the method for Delphi, AHP and SWOT for the design of marketing strategy formulation with the simulation data management with the results of this study demonstrate the Delphi method, AHP and SWOT can be used as the standard framework of marketing strategy formulation procedures.

Keywords : Delphi, AHP, framework, and SWOT

Manajemen Pemasaran (Studi Kasus Garuda Indonesia)_jilid 6 (Tamat)



  KESIMPULAN DAN SARAN


KESIMPULAN
Menurut kami, Garuda Indonesia telah melakukan strategi pemasaran yang bagus hingga saat ini.  Untuk mendapatkan strategi pemasaran yang tepat, Garuda Indonesia telah melakukan analisa yang dalam pada seluruh aspek yang terkait pada Garuda Indonesia secara mendalam dan menyeluruh, serta dilakukan secara beberapa kali  untuk mendapatkan strategi pemasaran yang tepat. Mengenai teknik yang digunakan dalam menganalisa dirinya, kami masih belum dapat mengetahu metode apa yang mereka lakukan karena hal itu bersifat confidentinal sehingga kami mengalami kesusahan dalam melakukan penelusuran lebih dalam.
Strategi pemasaran yang tepat yang telah dilakukan oleh Garuda Indonesia dapat dilihat pada eksistensi dan arus penerbangan Garuda Indonesia di dunia maskapai penerbangan domestic pada khususnya dan penerbangan internasional pada umumnya. Seperti yang sudah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya, hal ini dilihat dari beberapa pencapaian yang telah dilakukan seperti penambahan armada penerbangan dengan kualitas pesawat yang berteknologi tinggi sehingga Garuda Indonesia dapat melakukan perluasan area penerbangan baik domestik maupun internasional. Sertifikat IATA Operational Safety Audit yang didapatkan pada tahun 2008 sebagai bukti bahwa Garuda Indonesia mempunyai tingkat jaminan keselamatan penerbangan dan keamanan yang terbukti secara internasional dan satu-satunya maskapai penerbangan Indonesia yang mendapatkan sertifikasi internasional tersebut.

SARAN
Saran bagi Garuda Indonesai adalah melakukan perbaikan kualitas secara menyeluruh untuk memberikan “excellent service” bagi seluruh penumpang sehingga visi Garuda Indonesia untuk menjadi  “penerbangan pilihan utama di Indonesia yang berdaya saing internacional”. Garuda Indonesia tidak boleh cepat merasa puas akan keberhasilan yang tetap diraih agar visi tersebut semakin nyata dalam perjalanan hidup Garuda Indonesia sehingga dapat mengharumkan nama Indonesia sebagai maskapai penerbangan Indonesia yang terbukti dapat bersaing dengan maskapai penerbangan internacional di kancah penerbangan internasional.



  REFERENSI



Manajemen Pemasaran (Studi Kasus Garuda Indonesia)_jilid 5


 MARKET RESEARCH
    

Dalam bagian ini, kami mencoba menangkap gambaran besar market research yang telah dilakukan oleh Garuda Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam menghadapi tingkat persaingan di dunia penerbangan yang semakin tinggi. Hal ini disebabkan karena perusahaan yang kami ambil sebagai contoh merupakan perusahaan yang sangat besar dan sangat besar juga tingkat kompleksitasnya jika dilakukan market research dalam waktu terbatas dan jumlah personil yang terbatas karena market research akan berjalan dengan maksimal, jika kita melakukan riset pasar pada seluruh aspek perusahaan dan secara menyeluruh. Itulah sebabnya mengapa kami  memilih untuk mencoba menangkap riset pasar yang telah dilakukan Garuda Indonsesi.

Krisis global sebagai salah satu faktor yang telah mempengaruhi kinerja komersial perusahaan. Kendati demikian, terkait dengan “customer centricity Garuda Indonesia tetap membuka rute baru demi melayani permintaan pelanggan yang terus berkembang. Garuda Indonesia giat melakukan pengembangan rute sehingga tercipta profit yang optimum.  Untuk memperbaiki kinerja dan memenangkan persaingan dalam merebut pasar, Garuda Indonesia sangat mengedepankan pada nilai-nilai perusahaan yang dianut. Satu nilai yang dianut sangat erat hubungannya dengan konsumen, yaitu customer centricity. 

DEFINISI MASALAH DAN PENETAPAN TUJUAN RISET
Pada Garuda Indonesia yang melakukan usaha menjual jasa penerbangan, maka mengacu pada sasaran strategies perusahaan, masalah yang dihadapi adalah ”Bagaimana menjadi ”leading carrier” dalam penerbangan dalam negeri dan ”flag carrier” untuk penerbangan internasional”. Tujuan dari dari riset yang dilakukan adalah untuk mencapai sasaran perusahaan, utamanya pada peningkatan kepuasan pelanggan.

RENCANA RISET (RESEARCH PLANNING)

Berikut ini tahapan-tahapan pada riset pasar yang dilakukan pada umumnya :
  1. Menentukan jumlah contoh yang akan diteliti (misalnya : 1% dari rata-rata penumpang harian)
  2. Menyiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk questionaire
  3. Melakukan sampling secara proporsional random. Proporsional didasarkan volume penumpang di rute tertentu dan  secara random untuk penumpangnya.
  4. Melakukan pengambilan data
  5. Melakukan analisa data
  6. Pengambilan kesimpulan
  7. Pembuatan strategi yang harus dilakukan

ANALISA DATA
Revenue Passenger Kilometer
Seiring dengan meningkatnya kepercayaan pelanggan, pertumbuhan permintaan dan peningkatan kapasitas produksi, RPK penerbangan mainbrand relatif stabil yaitu sebesar 15,4 miliar di tahun 2009.  RPK penerbangan internasional tercatat mengalami penurunan sebesar 2,7% menjadi 8,5 miliar, sementara RPK penerbangan domestik mengalami peningkatan sebesar 3,2% menjadi 6,8 miliar.
  
Seat Load Factor
Tingkat Seat Load Factor (SLF) untuk penerbangan mainbrand tercatat sebesar 73,5% di tahun 2009 mengalami penurunan dibandingkan dengan 76,5% di tahun 2008 karena semakin tingginya tingkat persaingan dan penambahan ASK.

 Pangsa Pasar Internasional
Jumlah penumpang di pasar internasional ke dan dari bandara Cengkareng dan Ngurah Rai Denpasar mengalami kenaikan sebesar 7,2% selama tahun 2009 dibandingkan tahun sebelumnya. Walaupun krisis ekonomi dunia menyebabkan penurunan permintaan untuk area Jepang-Korea-Cina, namun area lain menunjukkan pertumbuhan, dengan pertumbuhan terbesar dinikmati oleh area layanan South West Pacificdari bertambahnya maskapai yang melayani rute ini khususnya maskapai low cost, seperti Jetstar, Indonesia Air Asia dan Virgin Blue.
  
Sebagai akibat dari gencarnya ekspansi maskapai penerbangan low cost, pangsa pasar Garuda Indonesia di pasar internasional mengalami penurunan dari 26,3% di tahun 2008 menjadi 23,2% di tahun 2009. Kendati demikian, Garuda Indonesia masih menjadi pemimpin pasar untuk area Jepang-Korea-Cina, Timur Tengah dan South West Pacific (Australia).
  
Domestik
Total penumpang di pasar domestik dari dan ke bandara Cengkareng dan Ngurah Rai selama tahun 2009 mengalami peningkatan sebesar 14,0% dibandingkan tahun 2008. Krisis ekonomi global tidak banyak berpengaruh pada kondisi ekonomi Indonesia karena berkembangnya ekonomi daerah membuat arus penumpang antar daerah meningkat sehingga mendorong pertumbuhan bisnis penerbangan domestik yang cukup signifikan. Ditambah lagi penggunaan pesawat dengan kapasitas yang lebih besar turut memicu peningkatan jumlah penumpang karena kapasitas yang besar ini memungkinkan ditawarkannya harga yang menarik.

IMPLEMENTASI DARI RISET PASAR
Salah satu implementasi yang telah dilakukan oleh Garuda Indonesia adalah memperluas jaringan penerbangan dan menutup jalur penerbangan yang tidak efektif. Berdasarkan kajian tersebut, beberapa rute penerbangan ditutup dan dialihkan ke rute-rute yang memberikan kinerja baik. Di tahun 2009, perusahaan membuka 14 rute baru yang terdiri dari 7 rute domestik dan 7 rute internasional, serta melakukan reroute terhadap 3 rute internasional. Rute domestik yang baru adalah Denpasar-Mataram vv, Jakarta-Denpasar-Kupang vv, Jakarta-Jambi vv, Jakarta-Makasar-Kendari vv, Jakarta-Malang vv, Jakarta-Pangkal Pinang vv, Jakarta-Tanjung Karang vv.

Sementara rute internasional yang baru adalah Denpasar-Hong Kong vv,Jakarta-Melbourne vv, Jakarta-Seoul vv, Jakarta-Shanghaivv, Jakarta-Sydney vv, Mataram-Jakarta-Kuala Lumpurvv dan Surabaya-Hong Kong vv. Namun, dari 7 rute internasional yang baru, 2 rute ditutup per Desember 2009. Per akhir 2009, perusahaan memiliki 46 kota tujuan penerbangan yang dan melayani 57 rute, yaitu 34 rute domestik dan 23 rute internasional.  Perusahaan mentargetkan dapat melayani penerbangan ke seluruh ibukota propinsi demi meningkatkan utilisasi pesawat di masa datang.

Disamping membuka rute baru, Garuda Indonesia juga melakukan intensifikasi atas jaringan penerbangan yang ada.  Jaringan penerbangan Perusahaan saat ini menghubungkan 28 kota domestik dan 24 kota internasional, termasuk sembilan kota yang diterbangi oleh mitra codeshare perusahaan. Di tahun 2009, mitra codeshare ini berjumlah 9 maskapai penerbangan.Disamping itu Garuda Indonesia juga membangun kerjasama dengan beberapa maskapai penerbangan internasional, seperti Singapore Airlines, Silk Air, China Airlines, China Southern Airlines, Korean Air, MalaysianAirlines, Philippine Airlines, and Qatar Airways untuk melayani pasar Asia Tenggara maupun internasional.

Manajemen Pemasaran (Studi Kasus Garuda Indonesia)_jilid 5


MARKET RESEARCH
  

RISET PASAR (MARKET RESEARCH)
Dalam bagian ini, kami mencoba menangkap gambaran besar market research yang telah dilakukan oleh Garuda Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam menghadapi tingkat persaingan di dunia penerbangan yang semakin tinggi. Hal ini disebabkan karena perusahaan yang kami ambil sebagai contoh merupakan perusahaan yang sangat besar dan sangat besar juga tingkat kompleksitasnya jika dilakukan market research dalam waktu terbatas dan jumlah personil yang terbatas karena market research akan berjalan dengan maksimal, jika kita melakukan riset pasar pada seluruh aspek perusahaan dan secara menyeluruh. Itulah sebabnya mengapa kami  memilih untuk mencoba menangkap riset pasar yang telah dilakukan Garuda Indonsesi.

Krisis global sebagai salah satu faktor yang telah mempengaruhi kinerja komersial perusahaan. Kendati demikian, terkait dengan “customer centricity Garuda Indonesia tetap membuka rute baru demi melayani permintaan pelanggan yang terus berkembang. Garuda Indonesia giat melakukan pengembangan rute sehingga tercipta profit yang optimum.  Untuk memperbaiki kinerja dan memenangkan persaingan dalam merebut pasar, Garuda Indonesia sangat mengedepankan pada nilai-nilai perusahaan yang dianut. Satu nilai yang dianut sangat erat hubungannya dengan konsumen, yaitu customer centricity. 

DEFINISI MASALAH DAN PENETAPAN TUJUAN RISET
Pada Garuda Indonesia yang melakukan usaha menjual jasa penerbangan, maka mengacu pada sasaran strategies perusahaan, masalah yang dihadapi adalah ”Bagaimana menjadi ”leading carrier” dalam penerbangan dalam negeri dan ”flag carrier” untuk penerbangan internasional”. Tujuan dari dari riset yang dilakukan adalah untuk mencapai sasaran perusahaan, utamanya pada peningkatan kepuasan pelanggan.

RENCANA RISET (RESEARCH PLANNING)

Berikut ini tahapan-tahapan pada riset pasar yang dilakukan pada umumnya :
  1. Menentukan jumlah contoh yang akan diteliti (misalnya : 1% dari rata-rata penumpang harian)
  2. Menyiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk questionaire
  3. Melakukan sampling secara proporsional random. Proporsional didasarkan volume penumpang di rute tertentu dan  secara random untuk penumpangnya.
  4. Melakukan pengambilan data
  5. Melakukan analisa data
  6. Pengambilan kesimpulan
  7. Pembuatan strategi yang harus dilakukan

ANALISA DATA
Revenue Passenger Kilometer
Seiring dengan meningkatnya kepercayaan pelanggan, pertumbuhan permintaan dan peningkatan kapasitas produksi, RPK penerbangan mainbrand relatif stabil yaitu sebesar 15,4 miliar di tahun 2009.  RPK penerbangan internasional tercatat mengalami penurunan sebesar 2,7% menjadi 8,5 miliar, sementara RPK penerbangan domestik mengalami peningkatan sebesar 3,2% menjadi 6,8 miliar.
  
Seat Load Factor
Tingkat Seat Load Factor (SLF) untuk penerbangan mainbrand tercatat sebesar 73,5% di tahun 2009 mengalami penurunan dibandingkan dengan 76,5% di tahun 2008 karena semakin tingginya tingkat persaingan dan penambahan ASK.
  
Pangsa Pasar Internasional
Jumlah penumpang di pasar internasional ke dan dari bandara Cengkareng dan Ngurah Rai Denpasar mengalami kenaikan sebesar 7,2% selama tahun 2009 dibandingkan tahun sebelumnya. Walaupun krisis ekonomi dunia menyebabkan penurunan permintaan untuk area Jepang-Korea-Cina, namun area lain menunjukkan pertumbuhan, dengan pertumbuhan terbesar dinikmati oleh area layanan South West Pacificdari bertambahnya maskapai yang melayani rute ini khususnya maskapai low cost, seperti Jetstar, Indonesia Air Asia dan Virgin Blue.

 Sebagai akibat dari gencarnya ekspansi maskapai penerbangan low cost, pangsa pasar Garuda Indonesia di pasar internasional mengalami penurunan dari 26,3% di tahun 2008 menjadi 23,2% di tahun 2009. Kendati demikian, Garuda Indonesia masih menjadi pemimpin pasar untuk area Jepang-Korea-Cina, Timur Tengah dan South West Pacific (Australia).


Domestik
Total penumpang di pasar domestik dari dan ke bandara Cengkareng dan Ngurah Rai selama tahun 2009 mengalami peningkatan sebesar 14,0% dibandingkan tahun 2008. Krisis ekonomi global tidak banyak berpengaruh pada kondisi ekonomi Indonesia karena berkembangnya ekonomi daerah membuat arus penumpang antar daerah meningkat sehingga mendorong pertumbuhan bisnis penerbangan domestik yang cukup signifikan. Ditambah lagi penggunaan pesawat dengan kapasitas yang lebih besar turut memicu peningkatan jumlah penumpang karena kapasitas yang besar ini memungkinkan ditawarkannya harga yang menarik.

IMPLEMENTASI DARI RISET PASAR
Salah satu implementasi yang telah dilakukan oleh Garuda Indonesia adalah memperluas jaringan penerbangan dan menutup jalur penerbangan yang tidak efektif. Berdasarkan kajian tersebut, beberapa rute penerbangan ditutup dan dialihkan ke rute-rute yang memberikan kinerja baik. Di tahun 2009, perusahaan membuka 14 rute baru yang terdiri dari 7 rute domestik dan 7 rute internasional, serta melakukan reroute terhadap 3 rute internasional. Rute domestik yang baru adalah Denpasar-Mataram vv, Jakarta-Denpasar-Kupang vv, Jakarta-Jambi vv, Jakarta-Makasar-Kendari vv, Jakarta-Malang vv, Jakarta-Pangkal Pinang vv, Jakarta-Tanjung Karang vv.

Sementara rute internasional yang baru adalah Denpasar-Hong Kong vv,Jakarta-Melbourne vv, Jakarta-Seoul vv, Jakarta-Shanghaivv, Jakarta-Sydney vv, Mataram-Jakarta-Kuala Lumpurvv dan Surabaya-Hong Kong vv. Namun, dari 7 rute internasional yang baru, 2 rute ditutup per Desember 2009. Per akhir 2009, perusahaan memiliki 46 kota tujuan penerbangan yang dan melayani 57 rute, yaitu 34 rute domestik dan 23 rute internasional.  Perusahaan mentargetkan dapat melayani penerbangan ke seluruh ibukota propinsi demi meningkatkan utilisasi pesawat di masa datang.

Disamping membuka rute baru, Garuda Indonesia juga melakukan intensifikasi atas jaringan penerbangan yang ada.  Jaringan penerbangan Perusahaan saat ini menghubungkan 28 kota domestik dan 24 kota internasional, termasuk sembilan kota yang diterbangi oleh mitra codeshare perusahaan. Di tahun 2009, mitra codeshare ini berjumlah 9 maskapai penerbangan.Disamping itu Garuda Indonesia juga membangun kerjasama dengan beberapa maskapai penerbangan internasional, seperti Singapore Airlines, Silk Air, China Airlines, China Southern Airlines, Korean Air, MalaysianAirlines, Philippine Airlines, and Qatar Airways untuk melayani pasar Asia Tenggara maupun internasional.


Kamis, 22 November 2012

Manajemen Pemasaran (Studi Kasus Garuda Indonesia)_jilid 4


PDB
    POSITIONING, DIFFERENTIATION, BRANDING

POSITIONING
Positioning adalah proses penciptaan akan image dari produk untuk dapat dipegang dalam pikiran konsumennya sehingga dapat bersaing melawain produk-produk pesainnnya. Dengan positioning yang jelas, konsumen dapat dengan jelas memahami apa yang menjadi ciri unik dalam produk kita ketika dibandingkan dengan produk pesaingnya.

Garuda Indonesia telah dengan jelas menyatakan posisinya. Dengan mengetahui dan menentukan posisi dirinya, membuat Garuda Indonesia dapat dengan jelas siapa yang menjadi target pemasaran mereka.  Hal ini tercermin dalam visi Garuda Indonesia yaitu “Menjadi perusahaan penerbangan pilihan utama di Indonesia yang berdaya saing internasional”.  Dalam gambaran yang lebih konkrit, posisi Garuda Indonesia telah memberikan posisi yang di jelas di pandangan masyarakat luas dimana ketika seseorang berbicara kata “Garuda Indonesia” itu berarti sebuah maskapai penerbangan yang sangat memperhatikan kualitas pelayanan bagi seluruh penumpangnya, bukan sebuah maskapai penerbangan yang hanya memberikan jasa tranportasi udara tetapi tanpa memperhatikan keselamatan penumpang dan kenyamanan selama perjalanan. Garuda Indonesia melakukan perubahan dalam usaha mengambil hati konsumennya dari company-oriented menjadi customer-oriented. Dari sekedar “service”, kita menjadi lebih mengarah pada “caring service”.

Hal tersebut telah tercermin juga dalam misi-misi Garuda Indoenesia dimana hal itu juga telah mempengaruhi seluruh aspek dalam Garuda Indonesia dimana segala tindak lakunya. Hal ini bisa dilihat pada beberapa hasil pencapaian yang telah dilakukan oleh Garuda Indonesia seperti layanan kerja sama dengan kantor imigrasi dan layanan bea cukai, dimana konsumen Garuda Indonesia diberikan hak khusus akan layanan imigrasi dan bea cukai sehingga mereka tidak perlu susah payah antri menunggu giliran diproses seperti penumpang pada maskapai penerbangan yang lain

Selain itu, Garuda Indonesia berusaha untuk memperbaiki tingkat keamanan dan jaminan keselamatan bagi seluruh penumpangnya dengan cara mendapatkan sertifikat IATA Operational Safety Audit pada tahun 2008 dengan cara yang sangat susah dan harus melewati proses yang panjang. IATA Operational Safety Audit adalah sertifikasi internasional di bidang jaminan keselamatan dan telah diakui oleh internasional. Sebagai informasi, Garuda Indonesia adalah maskapai penerbangan Indonesia yang pertama dan satu-satunya dari Indonesia yang telah mendapatkan sertifikasi internasional tersebut.

Baru-baru ini, Garuda Indonesia juga telah membangun sebuah service center di Jakarta yang disebut dengan sebutan Garuda Indonesia Service Center. Garuda Indonesia mencoba untuk meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan dengan konsep “excellent service” dimana melalui service center ini, Garuda Indonesia melayani berbagai macam kebutuhan penerbangan bagi penumpang mulai dari sebelum penerbangan hingga sesudah penerbangan.

DIFFERENTIATION
Garuda Indonesia telah melakukan diferensiasi pada produk yang ditawarkan kepada seluruh penumpangnya dengan konsep “excellent service”. Konsep layanan tersebut telah menjadi faktor yang membedakan Garuda Indonesia dibandingkan para kompetitornya yang lain. Ketika yang lain berusaha bergerak di bidang “low cost carrier”, Garuda Indonesia tidak serta merta melakukan penghancuran harga untuk tetap mengambil hati pelanggan dimana hal ini bisa membunuh visi Garuda Indonesia yang telah ditetapkan sebelumnya. Namun, Garuda Indonesia justru berusaha menarik hati pelanggannya melalui konsep “excellent service”. Garuda Indonesia percaya bahwa dengan tingkat kepuasan pelanggan yang tinggi melalui kualitas layanan yang tinggi pula akan pelanggan tersebut untuk kembali lagi dan tidak sungkan untuk mengeluarkan nilai yang lebih.

Untuk tetap mengambil hati di pandangan pelanggan yang masih berorientasi pada harga yang murah, Garuda Indonesia telah membuat sebuah anak perusahaan baru bernama “Citilink” dimana anak perusahaan ini menggunakan konsep “low cost carrier” namun tetap mempertahankan kualitas layanan yang tinggi pula (walau tidak setinggi Garuda Indonesia).

Hal ini diharapkan, Garuda Indonesia dapat tetap mempertahankan standar layanan yang tinggi serta dapat mengambil hati di masyarakat yang masih menjadikan factor harga sebagai faktor utama dalam pemilihan maskapai.

BRANDING

Garuda Indonesia telah mempunyai branding yang cukup kuat di kalangan masyarakat Indonesia dimana Garuda Indonesia dapat dikatakan sebagai salah satu maskapai penerbangan yang menjadi pioner utama dalam dunia penerbangan dengan prestasi keamanan dan jaminan keselamatan penumpang yang tinggi serta kualitas layanan yang tinggi yang selalu diperbaiki dari waktu ke waktu. Di dunia internasional, Garuda Indonesia telah menjadi salah satu maskapai penerbangan yang telah mempunyai beberapa rute penerbangan internasional yang tidak kalah bersaing dengan maskapai penerbangan internasional lainnya dimana Garuda Indonedia mencoba mengadopsi kultur Indonesia di dalam setiap layanan penerbangan yang mereka berikan sehingga dapat memberikan unsur unik dalam pelayanannya.