Translate

Kamis, 22 November 2012

Manajemen Pemasaran (Studi Kasus Garuda Indonesia)_jilid 2


KONSEP USAHA
Melaksanakan dan menunjang kebijaksanaan dan program Pemerintah di bidang pembangunan dan ekonomi nasional pada umumnya, khususnya di bidang jasa pengangkutan udara dan bidang lainnya yang berkaitan dengan jasa pengangkutan udara serta memupuk keuntungan bagi perseroan dengan menyelenggarakan angkutan penerbangan.

VISI MISI
Visi Perusahaan :
·        Menjadi perusahaan penerbangan pilihan utama di Indonesia yang berdaya saing internasional.

Misi Perusahaan  :
·        Memberikan layanan dan jasa angkutan udara yang memberikan kepuasan kepada pengguna jasa secara terpadu dan profesional dan didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten.

STRATEGI PERUSAHAAN
Perusahaan merumuskan Rencana Strategis Tahun 2006 - 2010+ sebagai acuan penataan dan pengembangan perusahaan dari seluruh aspek kegiatan perusahaan mulai dari aspek operasi, manajemen hingga bisnis.

Dalam jangka pendek, kegiatan operasi dan manajemen ditata ulang agar kembali menjadi penerbangan yang tepat waktu dengan kualitas layanan yang prima, sedangkan aspek bisnis ditata ulang agar seluruh penerbangan menjadi positif.

Dalam jangka menengah, organisasi dan manajemen yang dibangun kembali agar dapat menjadi organisasi yang efektif, sehingga Perusahaan dapat berkembang sejajar dengan perusahaan penerbangan internasional lainnya.

Sedangkan dalam jangka panjang, operasi dan bisnis Perusahaan ditingkatkan agar mampu melayani penerbangan yang menjangkau tujuan penerbangan (destination) yang semakin luas di manca negara.

Keseluruhan tujuan di atas tercantum dalam tahapan-tahapan yang ingin dicapai dalam Rencana Strategis Tahun 2006 - 2010+ sebagai berikut:
•        Tahapan pertama adalah survival dalam pasar industri aviasi yang kompetitif dan agresif. Perusahaan menjalankan strategi Konsolidasi pada tahun 2006 dan strategi Rehabilitasi pada tahun 2007.
•        Tahapan kedua Turnaround akan dicapai pada tahun 2008- 2009.

Fokus pada tahun 2008 adalah:
•        Finalize debt restructuring, start of privatization process
•        Improvement in product & services.

Sedangkan pada tahun 2009 strategi dilanjutkan dengan fokus kepada:
•        Competitiveness & expansion to domestic/regional
•        Privatization effective.
•     Tahapan ketiga Growth mengkapitalisasi upaya-upaya sebelumnya melalui program initial public offering (IPO) yang menyiapkan Perusahaan untuk sustainable growth pada tahun 2010 dan sesudahnya.




Sabtu, 17 November 2012

Manajemen Pemasaran (Studi Kasus Garuda Indonesia) _ jilid 1

Oleh Beny Purnama / Dharma Pala / Nehemia Sugianto (MMT - ITS)



LATAR BELAKANG
Garuda Indonesia adalah maskapai penerbangan nasional Indonesia. Garuda adalah nama burung mitos dalam legenda pewayangan. Pada tanggal 25 Desember 1949, wakil dari KLM yang juga teman Presiden Soekarno, Dr. Konijnenburg, menghadap dan melapor kepada Presiden di Yogyakarta bahwa KLM Interinsulair Bedrijf akan diserahkan kepada pemerintah sesuai dengan hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) dan meminta kepada beliau memberi nama bagi perusahaan tersebut karena pesawat yang akan membawanya dari Yogyakarta ke Jakarta nanti akan dicat sesuai nama itu.

Menanggapi hal tersebut, Presiden Soekarno menjawab dengan mengutip satu baris dari sebuah sajak bahasa Belanda gubahan pujangga terkenal, Raden Mas Noto Soeroto di zaman kolonial, Ik ben Garuda, Vishnoe's vogel, die zijn vleugels uitslaat hoog boven uw eilanden ("Aku adalah Garuda, burung milik Wisnu yang membentangkan sayapnya menjulang tinggi diatas kepulauanmu")

Maka pada tanggal 28 Desember 1949, terjadi penerbangan yang bersejarah yaitu pesawat DC-3 dengan registrasi PK-DPD milik KLM Interinsulair terbang membawa Presiden Soekarno dari Yogyakarta ke Kemayoran - Jakarta untuk pelantikannya sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan logo baru, Garuda Indonesian Airways, nama yang diberikan Presiden Soekarno kepada perusahaan penerbangan pertama ini.

Garuda Indonesia berawal dari tahun 1940-an, di mana Indonesia masih berperang melawan Belanda. Pada saat itu, Garuda terbang jalur spesial dengan pesawat DC-3.
Tanggal 26 Januari 1949 dianggap sebagai hari jadi maskapai penerbangan ini. Pada saat itu nama maskapai ini adalah Indonesian Airways. Pesawat pertama mereka bernama Seulawah atau Gunung Emas, yang diambil dari nama gunung terkenal di Aceh. Dana untuk membeli pesawat ini didapatkan dari sumbangan rakyat Aceh, pesawat tersebut dibeli seharga 120,000 dolar malaya yang sama dengan 20 kg emas. Maskapai ini tetap mendukung Indonesia sampai revolusi terhadap Belanda berakhir. Garuda Indonesia mendapatkan konsesi monopoli penerbangan dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1950 dari Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM), perusahaan penerbangan nasional Hindia Belanda. Garuda adalah hasil joint venture antara Pemerintah Indonesia dengan maskapai Belanda Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM). Pada awalnya, Pemerintah Indonesia memiliki 51% saham dan selama 10 tahun pertama, perusahaan ini dikelola oleh KLM. Karena paksaan nasionalis, KLM menjual sebagian dari sahamnya di tahun 1954 ke pemerintah Indonesia.

Pemerintah Burma banyak menolong maskapai ini pada masa awal maskapai ini. Oleh karena itu, pada saat maskapai ini diresmikan sebagai perusahaan pada 31 Maret 1950, Garuda menyumbangkan Pemerintah Burma sebuah pesawat DC-3. Pada mulanya, Garuda memiliki 27 pesawat terbang, staf terdidik, bandara dan jadwal penerbangan, sebagai kelanjutan dari KNILM. Ini sangat berbeda dengan perusahaan-perusahaan pionir lainnya di Asia.

Pada tahun 1953, maskapai ini memiliki 46 pesawat, tetapi pada tahun 1955, pesawat Catalina mereka harus pensiun. Tahun 1956 mereka membuat jalur penerbangan pertama ke Mekkah.
Tahun 1960-an adalah saat kemajuan pesat maskapai ini. Tahun 1965 Garuda mendapat dua pesawat baru yaitu pesawat jet Convair 990 dan pesawat turboprop Lockheed L-118 Electra. Pada tahun 1961 dibuka jalur menuju Bandara Internasional Kai Tak di Hong Kong dan tahun 1965 tibalah era jet, dengan DC-8 mereka membuat jalur penerbangan ke Bandara Schiphol di Haarlemmermeer, Belanda, Eropa.

Tahun 1970-an Garuda mengambil Jet kecil DC-9 dan Fokker F28 saat itu Garuda memiliki 36 pesawat F28 dan merupakan operator pesawat terbesar di dunia untuk jenis pesawat tersebut. Pada saat itu, maskapai ini mulai membeli pesawat badan lebar seperti Boeing 747-200B dan McDonnell Douglas DC-10-30. Sementara pada 1980-an mengadopsi perangkat dari Airbus, seperti A300. Tahun 1990an, maskapai ini membeli Boeing 737, Boeing 747-400, Airbus A330-300, dan juga McDonnell Douglas MD-11.

Dalam tahun 1990-an, Garuda mengalami beberapa musibah, terutama pada tahun 1997, dimana sebuah A300 jatuh di Sibolangit, menewaskan seluruh penumpangnya. Maskapai ini pun mengalami periode ekonomi sulit, karena, pada tahun yang sama Indonesia terkena Krisis Finansial Asia, yang terjadi tahun 1997. Setelah itu, Garuda sama sekali tidak terbang ke Eropa maupun Amerika (meskipun beberapa rute seperti Frankfurt dan Amsterdam sempat dibuka kembali, namun akhirnya kembali ditutup. Rute Amsterdam ditutup tahun 2004). Tetapi, dalam tahun 2000-an ini maskapai ini telah dapat mengatasi masalah-masalah di atas dan dalam keadaan ekonomi yang bagus.

Memasuki tahun 2000an, maskapai ini membentuk anak perusahaan bernama Citilink, yang menyediakan penerbangan biaya murah dari Surabaya ke kota-kota lain di Indonesia. Namun, Garuda masih saja bermasalah, selain menghadapi masalah keuangan (Pada awal hingga pertengahan 2000an, maskapai ini selalu mengalami kerugian), Beberapa peristiwa internasional (juga di Indonesia) juga memperburuk kinerja Garuda, seperti Serangan 11 September 2001, Bom Bali I dan Bom Bali II, wabah SARS, dan Bencana Tsunami Aceh 26 Desember 2004. Selain itu, Garuda juga menghadapi masalah keselamatan penerbangan, terutama setelah jatuhnya sebuah Boeing 737 di Yogyakarta ketika akan mendarat. Situasi ini diperburuk dengan sanksi Uni Eropa yang melarang semua pesawat maskapai Indonesia menerbangi rute Eropa. Namun, setelah perbaikan besar-besaran, tahun 2010 maskapai ini diperbolehkan kembali terbang ke Eropa, setelah misi inspeksi oleh tim pimpinan Frederico Grandini[5].yaitu rute Jakarta - Amsterdam. Rute Eropa lain seperti Paris, London, dan Frankfurt juga kemungkinan akan segera dibuka kembali.

Pada awal tahun 2005 memetakan masa depan Garuda Indonesia dimulai, memberikan evaluasi ulang lengkap dan restrukturisasi perusahaan dengan tujuan meningkatkan efisiensi operasional, membangun kembali kekuatan keuangan, dan meningkatkan respon pelanggan, dan yang paling penting, memperbarui dan menyegarkan semangat Garuda Indonesia.

Untuk Garuda Indonesia, pelayanan merupakan salah satu indikator kinerja kunci penting untuk operasinya. Langkah-langkah strategis yang melibatkan restrukturisasi rantai layanan menggarisbawahi komitmen seluruh perusahaan penerbangan untuk menjadi, berorientasi pelanggan layanan penuh penerbangan.

Garuda Indonesia sekarang beroperasi 51 pesawat yang meliputi tiga B-747-400-an, enam A-330-300, dan 37 B-737 (300, 400, 500 dan 800-an) dan saat ini terbang ke 42 tujuan domestik dan internasional.

Baru-baru ini, Garuda Indonesia, bersama dengan negara secara keseluruhan, telah mengalami masa perubahan yang dinamis. Garuda Indonesia terus berupaya untuk meningkatkan pelayanan dan memberikan layanan transportasi udara yang aman nyaman dan terpercaya. Melalui upaya itu, Garuda Indonesia kini telah berhasil meningkatkan kinerjanya dalam bidang keberangkatan tepat waktu, faktor beban dan hasil, dan perusahaan baru-baru ini kembali ke posisi arus kas positif dan laba usaha.

Garuda Indonesia juga menyadari bahwa tantangan bisnis masa depan akan semakin kompleks dan sulit. Akibatnya, Garuda Indonesia bertekad untuk meningkatkan kualitas dalam seluruh aspek kegiatan perusahaan, dan untuk mempersiapkan privatisasi yang akan terealisasi dalam waktu dekat. Melalui upaya tersebut adalah harapan tulus kami bahwa Garuda Indonesia akan tetap menjadi sumber kebanggaan nasional yang besar untuk Indonesia, dan bahwa kita akan terus menjadi salah satu maskapai penerbangan Asia  yang paling dihormati.


Selasa, 13 Desember 2011

Penerbangan Tepat Waktu atau On Time Performance_1

Sejak deregulasi penerbangan dan memasuki era globalisasi saat ini berakibat semakin ketatnya persaingan usaha bisnis penerbangan baik dari dalam ataupun luar negeri untuk itu jika ingin bertahan lama di usaha ini maka perusahaan penerbangan tersebut harus tetap menjaga ”Finance Performance” dengan konsekwensi utama bagaimana menekan dan mengontrol Cost dan menaikkan Revenue atau Profit tanpa mengabaikan aspek Safety dan Reliability.

Sehingga ”Airline Business” atau usaha bisnis penerbangan merupakan suatu usaha yang kompleks dimana usaha tersebut mempunyai jaringan yang satu sama lainnya saling terkait dan mempengaruhi baik dari sisi internal dan eksternal baik dari lingkup kecil dan besar dari usaha bisnis penerbangan  tersebut.

Dalam memenuhi kebutuhan transportasi dimana masyarakat saat ini dari hari ke hari sadar betul dan semakin meningkat akan kebutuhan tepat waktu, sehingga jika perusahaan penerbangan tidak dapat memenuhi kebutuhan waktu tersebut akan berakibat tidak baik baik dari sisi keuangan ataupun ”image” perusahaan tersebut.

Perusahaan penerbangan dalam rangka memenuhi Visi dan Misi perusahaan, salah satu kunci indikator utama atau ”Key Performance Indicator” atau KPI untuk memenuhi akan kebutuhan waktu tersebut adalah pencapaian target atau KPI  ”On Time Performance” atau populer disingkat dan disebut ”OTP” dimana targetnya telah ditetapkan oleh High Level Management dari perusahaan penerbangan  itu sendiri.

Kamis, 01 Desember 2011

Tata Cara Naik Pesawat

Secara garis besar dari tata cara naik pesawat merupakan aliran proses penumpang dalam sistem layanan jasa pengguna angkutan udara adalah sebagai berikut:

1. Calon penumpang mempunyai tujuan dan memilih perusahaan penerbangan yang ada melalui media komunikasi  seperti koran, majalah, jaringan internet dan lain sebagainya.
2. Membeli tiket yang sesuai dengan jadwal penerbangan yang diinginkan.
3. Datang ke Airport / Bandar udara di gerbang keberangkatan.
4. Melalui proses pemeriksaan bagasi dan penumpang oleh security / keamanan petugas bandara dipintu masuk   keberangkatan di bandara.
5. Melakukan proses Check In di perusahaan penerbangan sesuai dengan tiket yang dibeli untuk lapor diri    penumpang dan penyerahan bagasi jika ada dan menerima boarding pass / kartu untuk naik pesawat yang  mempunyai jam keberangkatan, nomer tempat duduk, nomer bagasi dan nomer pintu masuk untuk naik ke   pesawat.
6. Melewati pemeriksaan lagi oleh security / keamanan bandara sebelum ke pintu masuk untuk naik pesawat.
7. Melakukan proses Boarding untuk naik ke pesawat dengan melalui pemeriksaan boarding pass oleh petugas perusahaan penerbangan.
8. Naik ke dalam pesawat dengan tujuan yang sesuai dengan tiket.
9. Turun dari pesawat setelah tiba di bandara tujuan.
10.Mengambil bagasi jika ada , di area kedatangan bandara sebelum pintu keluar bandara.
11 Meninggalkan bandar udara melalui pintu keluar bandar udara.